Selasa, 05 Oktober 2010

Masyakat Indonesia Suka Kekerasan

Konflik-konflik kekerasan yang mulai mengancam kerukunan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak hanya dilatarbelakangi, baik oleh perbedaan kepercayaan maupun etnis. Lebih dari itu, ada kecenderungan masyarakat sudah menganggap konflik dengan tindak kekerasan sebagai hal yang wajar.

Demikian disampaikan anggota Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Mudjib Khudhori, Selasa (5/10/2010), dalam jumpa pers pembentukan tim khusus pengendali kekerasan, di kantor DPP PKB, Jakarta.

"Tindak kekerasan itu muncul bukan sekadar reaksi terhadap dan dari ketimpangan ekonomi, perbedaan etnis dan kepercayaan, melainkan sudah mengarah pada kecenderungan menyukai tindakan kekerasan dan premanisme," ujarnya kepada pewarta.

Mudjib mengaku tidak heran jika kesadaran bangsa Indonesia untuk ruang toleransi sudah semakin terkikis dan mungkin saja kejadian kekerasan semakin banyak terjadi ke depannya. Pasalnya, kecenderungan ini muncul akibat dari kurangnya sinergitas dari berbagai pihak untuk mengambil tindakan preventif.

Sering kali, penanganan beberapa kasus konflik dan kekerasan di Indonesia selalu mendadak dan cenderung reaktif pasca-munculnya konflik. Penanganan kasus-kasus konflik, lanjut Mudjib, tidak akan tuntas hanya dengan menangkap pelaku dan beberapa pihak yang terlibat. Harus ada tindakan solutif yang berkelanjutan. "Sebab jika akar konflik belum dibabat habis, hal itu akan terus tumbuh dan membentuk ranting-ranting baru," ujar Mudjib.

0 komentar:

Copyright © Hari 2011 All Rights Reserved hariagustomonugroho@